Latihan untuk FAI: Apakah Penguatan Lebih Unggul daripada Peregangan? Uji Acak Terkontrol 6 Bulan
Pendahuluan
Sindrom femoroasetabular impingement (FAI) adalah penyebab nyeri panggul yang cukup umum dan didefinisikan oleh konsensus internasional sebagai satu triad yang terdiri dari: (1) gejala, biasanya berupa nyeri pinggul atau selangkangan; (2) tanda klinis, termasuk penurunan kekuatan otot panggul dan lingkup gerak; serta (3) temuan pencitraan yang menunjukkan morfologi cam dan dan/atau pincer. Mengingat sering ditemukannya gangguan kekuatan dan mobilitas, defisit biomekanik kerap dianggap sebagai kontribusi utama terhadap gambaran gejala. Uji coba teracak terkontrol ini membandingkan program penguatan yang ditargetkan dengan program peregangan standar pada individu dengan sindrom FAI. Para penulis menilai bahwa latihan penguatan yang ditargetkan untuk FAI akan menghasilkan perbaikan yang lebih besar pada kualitas hidup terkait panggul, nyeri, fungsi fisik, dan luaran psikologis—termasuk kinesiophobia.
Metode
Penelitian ini mengikuti desain Randomized Controlled Trial dengan penilai yang dibutakan.
Para peserta dialokasikan secara acak (1:1) ke kelompok penguatan yang ditargetkan atau kelompok peregangan standar. Intervensi diberikan oleh 18 fisioterapis yang sudah terlatih di empat lokasi klinis di Australia.
Sebanyak 154 peserta dengan sindrom FAI direkrut dari wilayah metropolitan dan regional Victoria, Australia, melalui iklan komunitas dan layanan kesehatan. Kelayakan ditentukan berdasarkan kriteria klinis dan radiografis yang telah mapan, dengan pencitraan yang mengonfirmasi morfologi cam (sudut alfa ≥60°) dan tidak adanya osteoartritis pinggul yang signifikan (derajat Kellgren–Lawrence <2). Kriteria inklusi dan eksklusi dijelaskan lebih lanjut pada kotak berikut.

Intervensi diberikan oleh fisioterapis dengan pengalaman klinis 5–20 tahun yang menerima pelatihan terstandar dan panduan perawatan. Ketepatan pelaksanaan perawatan didukung melalui sesi pelatihan penyegaran, dan kepatuhan dipantau setiap minggu selama masa uji coba.
Kedua kelompok menjalani program fisioterapi selama 6 bulan, yang terdiri daripada fase terawasi awal selama 3 bulan dan fase pengelolaan mandiri berikutnya selama 3 bulan. Pada fase pertama, peserta mengikuti hingga enam kali konsultasi fisioterapi dan 12 latihan terawasi untuk FAIsambil tetap menyelesaikan latihan tambahan di rumah. Pada fase kedua, peserta melanjutkan program secara mandiri dengan keanggotaan gym dan tindak lanjut fisioterapi setiap bulan. Peserta yang terdampak COVID-19 menyelesaikan perawatan melalui telehealth dengan peralatan latihan di rumah.

Perawatan yang dipandu fisioterapis dengan latihan penguatan yang ditargetkan
Program penguatan terarah tersebut disesuaikan secara individual dengan gangguan fisik masing-masing peserta dan tujuan fungsional mereka. Program ini menggabungkan penguatan progresif pada pinggul dan trunk, latihan fungsional serta plyometrik, tahapan kembali ke olahraga atau peningkatan aktivitas fisik, edukasi yang dipersonalisasi, dan terapi manual bila memang diperlukan. Latihan untuk FAI mengikuti prinsip latihan resistensi yang sudah mapan untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan, dan power—sambil tetap memberi ruang bagi fisioterapis untuk menyesuaikan program berdasarkan respons gejala. Peserta juga mendapat program latihan di rumah yang terstruktur serta panduan untuk mencapai rekomendasi aktivitas fisik dari Organisasi Kesehatan Dunia.
Perawatan yang dipandu fisioterapis dengan peregangan yang distandardisasi
Program peregangan yang distandardisasi digunakan sebagai pembanding aktif dan disejajarkan dengan kelompok latihan penguatan dari segi kontak terapis, sehingga perbedaan kontekstual antara kedua kelompok berkurang. Selain itu, program peregangan dinilai sebagai terapi yang kredibel oleh para peserta, sehingga menurunkan risiko demoralisation. Intervensinya terdiri dari serangkaian latihan peregangan pada pinggul dan tungkai bawah yang distandardisasi, dengan progres sesuai protokol yang telah ditetapkan. Fisioterapis mengawasi latihan untuk FAI dan menyesuaikan posisi untuk mengoptimalkan peregangan sekaligus meminimalkan nyeri yang berlebihan. Peserta juga menerima saran umum untuk memenuhi rekomendasi aktivitas fisik dari World Health Organization (WHO), namun ini tidak dipersonalisasi seperti pada kelompok latihan penguatan yang ditargetkan.

Pasien menjalani penilaian awal dan penilaian lanjutan pada enam bulan
Hasil utama
Outcome utama adalah kualitas hidup yang berkaitan dengan pinggul, dinilai menggunakan International Hip Outcome Tool-33 (iHOT-33), yaitu ukuran outcome yang dilaporkan pasien (patient-reported outcome measure) yang valid dan reliabel untuk orang dewasa yang aktif dengan nyeri yang berkaitan dengan pinggul. Skor berada pada rentang 0 hingga 100, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan fungsi dan kualitas hidup yang lebih baik, serta minimal clinically important difference (MCID) sebesar 9 poin
Peningkatan nyeri dan fungsi yang dirasakan pasien dinilai menggunakan skala Global Rating of Change (GROC), yang memakai skala Likert 7 poin dari “sangat membaik” hingga “sangat memburuk.” Untuk analisis sekunder, respons didikotomikan menjadi kategori membaik (membaik/sangat membaik) dan tidak membaik (sangat memburuk/buruk/tidak berubah/lebih sedikit membaik).
Hasil sekunder
Hasil sekunder mencakup gejala dan fungsi yang berhubungan dengan pinggul dan selangkangan (Copenhagen Hip and Groin Outcome Score), kinesiophobia (Tampa Scale for Kinesiophobia), intensitas nyeri (Numeric Rating Scale), serta ukuran gangguan fisik dan performa fungsional.
Analisis statistik
Data dianalisis dengan pendekatan intention-to-treat. Model mixed linier digunakan untuk membandingkan perubahan antar kelompok pada kualitas hidup terkait pinggul (iHOT-33), nyeri, dan fungsi pada 3 dan 6 bulan, sambil menyesuaikan dengan usia dan jenis kelamin. Analisis sensitivitas tambahan dilakukan untuk menilai dampak data yang hilang, kepatuhan terhadap pengobatan, dan gangguan terkait COVID-19. Luaran sekunder (nyeri, kinesiophobia, kekuatan, dan performa fungsional) dianalisis dengan pendekatan yang sama. Analisis dilakukan oleh seorang statistikawan yang dibutakan.
Hasil
154 peserta secara acak dialokasikan ke kelompok penguatan (strengthening) atau peregangan (stretching). Seperti yang ditampilkan pada Tabel 2, pasien memiliki karakteristik demografis awal, kualitas hidup (QOL), serta rata-rata dan nyeri terburuk pada awal yang sebanding. 12 peserta hilang selama tindak lanjut. Dari 154 peserta, 122 orang menghadiri minimal 80% dari sesi perawatan yang dijadwalkan. Kehadiran tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok.

Pada 6 bulan, tidak ada perbedaan antar-kelompok pada kualitas hidup terkait pinggul (iHOT-33), dengan kedua kelompok menunjukkan peningkatan yang bermakna secara klinis. Penguatan yang ditargetkan menghasilkan proporsi peserta yang lebih besar melaporkan nyeri membaik saat GROC diniplex (dichotomized), dibandingkan dengan stretching (72% vs 52%); namun, skor nyeri GROC secara keseluruhan tidak berbeda secara signifikan. Tidak ditemukan perbedaan untuk skor GROC-fungsional maupun luaran yang dilaporkan pasien lainnya.


Dari segi luaran fisik, kelompok latihan penguatan mengalami peningkatan yang lebih besar pada kekuatan otot pinggul, termasuk kekuatan abduksi, aduksi, rotasi internal, dan rotasi eksternal. Tidak ada perbedaan yang ditemukan pada rentang gerak atau ukuran performa fungsional.

Pertanyaan dan pemikiran
Penelitian ini menunjukkan peningkatan yang sebanding antara kelompok dari segi kualitas hidup terkait pinggul dan luaran nyeri. Satu-satunya perbedaan yang menonjol antar-kelompok muncul ketika GROC-nyeri dikategorikan (dichotomized), dengan proporsi peserta yang lebih besar di kelompok latihan penguatan melaporkan perbaikan nyeri dibandingkan dengan kelompok peregangan. Namun, kedua intervensi menghasilkan perbaikan yang bermakna secara klinis, terutama pada iHOT-33, meskipun besar perubahan tersebut masih sulit diinterpretasikan tanpa ukuran efek yang dilaporkan.
Hasil yang relatif serupa antar kelompok mungkin sebagian mencerminkan pengaruh komponen perawatan yang sama, termasuk kontak fisioterapi yang disesuaikan, edukasi, rasa tenang, serta interaksi terapeutik. Temuan ini menegaskan potensi pentingnya mekanisme perawatan kontekstual dan non-spesifik, seperti aliansi terapeutik, komunikasi, dan edukasi yang berpusat pada pasien. Selain itu, terapi manual yang diberikan pada kedua kelompok mungkin turut berperan dalam modifikasi gejala melalui mekanisme neurofisiologis dan kontekstual—bukan semata-mata melalui efek biomekanik.
Berdasarkan Perjanjian Warwick, FAIS ditandai oleh triad gejala, tanda klinis, dan perubahan morfologis, dengan gejala yang diduga muncul akibat “kontak prematur antara femur proksimal dan asetabulum.” Meski secara tradisional dianggap sebagai kondisi yang digerakkan secara mekanis, nyeri kemungkinan timbul dari interaksi kompleks antara pembebanan sendi, sensitivitas jaringan, dan faktor-faktor individu. Karena itu, mengidentifikasi pola gerak yang memperparah yang spesifik pada pasien serta perilaku yang terkait dengan beban bisa menjadi fokus klinis yang penting. Pendekatan yang lebih tepat mungkin adalah menurunkan secara bertahap aktivitas yang memprovokasi, lalu melakukan re-ekspose yang progresif disertai pembangunan kapasitas—daripada mencoba memperbaiki morfologi itu sendiri. Identifikasi mekanisme nyeri yang mendasarinya lebih lanjut dapat meningkatkan clinical reasoning, memfasilitasi pain phenotyping, dan memungkinkan strategi penanganan yang lebih individual.
Terkait protokol intervensi, ada beberapa pertimbangan metodologis yang perlu diakui. Walaupun disebut sebagai program strengthening yang ditargetkan, intervensi ini terlihat cukup standar—semua peserta mengikuti kategori latihan dan fase progresi yang mirip. Fisioterapis terutama menyesuaikan parameter latihan berdasarkan respons terhadap gejala, bukan menyesuaikan intervensi secara spesifik dengan gangguan/impairment individu. Penilaian muskuloskeletal yang lebih menyeluruh untuk mengidentifikasi defisit spesifik pasien berpotensi memungkinkan personalisasi perawatan yang lebih besar.
Selain itu, latihan yang ditentukan untuk parameter FAI memunculkan beberapa pertanyaan terkait adaptasi fisiologis yang ditargetkan. Latihan yang dilaporkan dalam materi tambahan umumnya dilakukan untuk 1×20 atau 1×30 repetisi, dan menurut prinsip latihan resistensi yang berlaku saat ini, ini lebih selaras dengan adaptasi daya tahan otot daripada pengembangan kekuatan maksimal atau hipertrofi. Karena itu, sejauh mana intervensi ini benar-benar merupakan program penguatan yang ditargetkan masih bisa diperdebatkan.


Bicara kutu buku padaku
Seperti dibahas di bagian Question and Thoughts, sindrom FAI kemungkinan muncul secara heterogen di antara pasien. Dengan hipotesis ini, intervensi penguatan tidak diharapkan bisa membantu semua orang dengan tingkat yang sama. Sebagian pasien mungkin merespons dengan baik karena latihan menargetkan gangguan yang secara spesifik berkontribusi pada kondisinya, sementara yang lain mungkin tidak—hanya karena penguatan tidak menyasar hal yang sebenarnya mendorong keluhan mereka. Kalau ini benar, kita akan mengharapkan adanya heterogenitas dalam respons terhadap pengobatan di dalam kelompok penguatan, bukan efek yang seragam pada semua pasien.
Untuk menguji heterogenitas, alat analisis statistik yang paling sesuai adalah uji formal varians, responder analysis, subgroup analysis, atau plot individual patient data. Namun, uji yang disebut terakhir tidak dilaporkan dalam studi ini. Meski begitu, gambar yang tersedia memungkinkan beberapa refleksi eksploratif.
Melihat Gambar 3, distribusi nyeri GROC selama 6 bulan pada kelompok STRENGTH menunjukkan proporsi pasien dengan kategori “much improved” yang secara angka tampak lebih besar, tetapi juga ada sebagian kecil yang melaporkan gejala memburuk. Pola ini bisa mencerminkan sebaran respons yang lebih luas, atau bahkan bersifat bimodal, sesuai dengan hipotesis heterogenitas di atas. Sebagai perbandingan, respons pada kelompok stretch terlihat lebih terkonsentrasi pada kategori-kategori menengah. Namun demikian, ini hanya kesan visual: tidak ada uji statistik formal untuk proporsi tersebut yang dilaporkan, jadi temuan ini tidak boleh dianggap sebagai hasil yang sudah terkonfirmasi.
Kalau heterogenitas ini memang nyata, ini masuk akal sebagai penjelasan mengapa hasilnya tidak signifikan pada Tabel 3: distribusi respons individu yang lebih menyebar (heterogen) akan meningkatkan varians di sekitar rerata kelompok kekuatan, sehingga interval kepercayaannya melebar dan jadi lebih sulit mendeteksi perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan stretch.
Namun, ada satu ketidakkonsistenan yang perlu dicatat: standar error yang dilaporkan di Tabel 3 sama persis antara kelompok pada 6 bulan (0,1 untuk keduanya), yang jelas tidak mendukung adanya variasi kekuatan yang lebih besar, dan pada akhirnya agak melemahkan penjelasan tersebut. Untuk mengonfirmasi atau menolak hipotesis heterogenitas, diperlukan data simpangan baku yang mendasari, uji perbandingan varians yang formal (misalnya, uji Levene), analisis ordinal yang lebih cocok untuk data tipe Likert (misalnya, Mann-Whitney U), dan/atau analisis responden yang sudah ditetapkan sebelumnya dengan ambang perbaikan yang telah tervalidasi. Tanpa semua itu, gagasan bahwa subkelompok poor responders menutupi manfaat rata-rata yang nyata dari latihan penguatan tetap merupakan hipotesis yang masuk akal, tetapi belum terkonfirmasi—dan layak diuji pada analisis di masa depan terhadap dataset ini.
Pesan untuk dibawa pulang
- Terapi latihan tampaknya bermanfaat bagi individu dengan sindrom FAI, baik programnya menekankan penguatan maupun peregangan. Kedua intervensi menghasilkan perbaikan yang bermakna secara klinis pada kualitas hidup terkait pinggul dalam waktu 6 bulan.
- Penguatan yang ditargetkan mungkin memberikan manfaat tambahan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kapasitas otot panggul, dengan proporsi peserta yang lebih besar melaporkan perbaikan nyeri dibandingkan dengan peregangan. Namun, keunggulan ini tidak berujung pada perbaikan yang lebih baik pada kualitas hidup atau fungsi secara keseluruhan.
- Proses terapi itu sendiri bisa menjadi pendorong penting terhadap hasil. Perbaikan yang serupa antar kelompok menyoroti kemungkinan peran faktor kontekstual seperti edukasi, rasa tenang, aliansi terapeutik, dan komunikasi yang berpusat pada pasien.
- Latihan untuk FAI harus melampaui sekadar memperbaiki gangguan. Alih-alih menganggap defisit kekuatan sebagai pemicu nyeri utama, klinisi perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang memperparah secara spesifik, tujuan fungsional, serta toleransi terhadap beban untuk memandu rehabilitasi.
- Penelitian di masa depan sebaiknya fokus pada identifikasi pasien mana yang merespons paling baik terhadap intervensi tertentu. Sindrom FAI kemungkinan merupakan kondisi yang heterogen, sehingga pendekatan berbasis subkelompok atau strategi penanganan yang lebih individual dapat meningkatkan pengambilan keputusan klinis.
Referensi
TINGKATKAN DIAGNOSIS BANDING ANDA DALAM NYERI PINGGUL YANG BERHUBUNGAN DENGAN LARI - GRATIS!
Jangan mengambil risiko melewatkan potensi tanda bahaya atau akhirnya merawat pelari berdasarkan diagnosis yang salah! Webinar ini akan mencegah Anda melakukan kesalahan yang sama yang dilakukan oleh banyak terapis!