Riset EBP & Statistik 21 Mei 2026
Pakhomova dkk. (2026)

Menjembatani Kesenjangan: Menyelaraskan Ekspektasi Pasien dengan Persepsi Fisioterapis

menyesuaikan harapan pasien 1

Pendahuluan

Persepsi dan ekspektasi pasien adalah faktor kunci yang mendorong hasil klinis. Bukti menunjukkan bahwa kepuasan pasien yang lebih tinggi berkaitan dengan keterlibatan yang lebih baik, kepatuhan terhadap pengobatan yang meningkat, serta hasil yang dinilai lebih baik oleh pasien. Sebaliknya, ekspektasi yang negatif bisa berkontribusi pada efek nocebo, sehingga nyeri meningkat dan efektivitas terapi menurun. Karena itu, mengidentifikasi dan menangani ekspektasi pasien secara tepat itu penting—namun dalam praktik klinis sering kali jadi tantangan. Artikel ini membahas ekspektasi pasien dalam fisioterapi dan menyoroti potensi perbedaan antara prioritas pasien dan asumsi yang dimiliki klinisi. Ulasan ini bertujuan menyediakan alat yang praktis dan siap pakai untuk membantu Anda memahami ekspektasi pasien, kepuasan, dan persepsi—agar Anda bisa meningkatkan hasil klinis.

 

Metode

Studi potong lintang ini mengikuti pedoman STROBE untuk penelitian observasional dan rekomendasi CHERRIES untuk survei online. Dua kuesioner terstruktur dikembangkan dan diuji coba pada enam partisipan (tiga pasien dan tiga fisioterapis). 

Kuesioner yang dikumpulkan mengumpulkan data demografis dan menilai 22 ekspektasi dalam empat domain: informasi, interaksi, keahlian, dan lingkungan. Pasien menyusun peringkat ekspektasi berdasarkan prioritas pribadi, sementara fisioterapis menyusunnya berdasarkan prioritas pasien yang mereka anggap.

Ukuran sampel dihitung menggunakan SurveyMonkey (tingkat kepercayaan 95%, margin of error 5%), dengan menargetkan 385 pasien dan 283 fisioterapis. Partisipan direkrut melalui kanal digital, termasuk asosiasi pasien, jaringan profesional, media sosial, dan milis. 

Kriteria kelayakannya dijelaskan lebih lanjut di Tabel 1.

memenuhi ekspektasi pasien
Dari: Pakhomova dkk., Musculoskeletal Care (2026)

 

Analisis statistik dilakukan menggunakan Minitab. Perbandingan antar kelompok dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney, berdasarkan nilai rata-rata tingkat pentingnya yang diberikan pada setiap harapan di keempat domain. 

 

Hasil

Data Geografis dan SosiodemografisSebanyak 618 pasien dengan gangguan muskuloskeletal dan 489 fisioterapis dimasukkan setelah penyaringan untuk respons yang lengkap. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dan kertas; respons yang tidak lengkap dikecualikan dan tidak dilakukan imputasi. Analisis dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin kesalahan 5%. Pasien sebagian besar berada di departemen Prancis tertentu (Loiret, Hérault, Doubs), sementara fisioterapis lebih tersebar merata, dengan konsentrasi yang lebih tinggi di Île-de-France. Karakteristik sosiodemografis fisioterapis dijelaskan secara terpisah.

memenuhi ekspektasi pasien
Dari: Pakhomova dkk., Musculoskeletal Care (2026)

 

memenuhi ekspektasi pasien
Dari: Pakhomova dkk., Musculoskeletal Care (2026)

 

Ekspektasi Utama Pasien dengan Gangguan Muskuloskeletal

Ekspektasi yang berbeda

Ekspektasi dinilai berdasarkan kategori yang ditetapkan (informasi, interaksi, lingkungan, keahlian). Prioritas utama pasien adalah memahami kondisi mereka (informasi), memiliki praktisi yang mendengarkan dan memberikan edukasi (interaksi), menjalani pemeriksaan fisik awal yang menyeluruh (keahlian), serta akses layanan yang cepat (lingkungan).

Persamaan antara Ekspektasi yang Dipahami Pasien dan Fisioterapis

Perbandingan ekspektasi pasien dengan fisioterapis menyoroti adanya kesesuaian dan perbedaan di seluruh kategori, dengan analisis statistik terperinci yang mengidentifikasi perbedaan yang signifikan. Persamaan dan perbedaan tersebut ditampilkan pada gambar-gambar berikut. 

Untuk kejelasan, gambar akan lebih baik jika mencantumkan satuan pada sumbu ordinat. Seperti yang dijelaskan oleh para penulis, skor berkisar dari 1 hingga N, di mana 1 mewakili prioritas tertinggi dan N prioritas terendah. Setiap item diberi peringkat dalam kategorinya masing-masing, dengan N yang menunjukkan jumlah total item dalam kategori tersebut.

Informasi

Para fisioterapis terlalu menilai pentingnya memberikan solusi, sambil meremehkan kebutuhan pasien akan penjelasan dan saran untuk manajemen mandiri. Kedua kelompok sepakat tentang pentingnya memahami kondisi tersebut, meskipun tanpa signifikansi statistik. Secara keseluruhan, kesenjangan berkaitan dengan edukasi pasien dan otonomi.

memenuhi ekspektasi pasien
Dari: Pakhomova dkk., Musculoskeletal Care (2026)

 

Interaksi Terapeutik

Walaupun kedua kelompok sepakat bahwa mendengarkan dan komunikasi itu penting, fisioterapis meremehkan ekspektasi pasien mengenai keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan motivasi. Sebaliknya, fisioterapis menilai terlalu tinggi kebutuhan akan kepastian (reassurance) dan perhatian aspek psikososial. Hal ini mencerminkan ketidaksesuaian antara model keterlibatan pasien yang lebih aktif versus model yang cenderung lebih pasif.

memenuhi ekspektasi pasien
Dari: Pakhomova dkk., Musculoskeletal Care (2026)

 

Keahlian Teknis

Pasien lebih mengutamakan asesmen awal dan penjelasan diagnosis dibandingkan fisioterapis, sedangkan fisioterapis lebih menekankan hasil terapi. Tidak ada perbedaan yang ditemukan untuk penerimaan layanan yang diharapkan. Ini menunjukkan bahwa pasien menghargai proses klinis tahap awal lebih tinggi daripada yang diperkirakan para praktisi.

memenuhi ekspektasi pasien
Dari: Pakhomova dkk., Musculoskeletal Care (2026)

 

Lingkungan Perawatan

Kedua kelompok sama-sama menganggap waktu tunggu yang singkat itu penting, meski fisioterapis melebih-lebihkan seberapa penting hal tersebut. Pasien memberi penekanan lebih besar pada kualitas klinik dan kenyamanan. Faktor logistik lainnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, yang mengindikasikan bahwa aspek lingkungan agak diremehkan oleh fisioterapis.

memenuhi ekspektasi pasien
Dari: Pakhomova dkk., Musculoskeletal Care (2026)

 

Gambaran Hasil dalam Ilustrasi

Secara keseluruhan, hasil menunjukkan adanya kecocokan yang sedang antara ekspektasi pasien dan persepsi fisioterapis, tetapi perbedaan yang konsisten masih terlihat. Hal ini terutama berkaitan dengan pentingnya penjelasan, keterlibatan pasien, dan kualitas lingkungan perawatan—di mana fisioterapis umumnya mengidentifikasi prioritas utama, tetapi kurang tepat dalam menilai seberapa penting masing-masing prioritas tersebut secara relatif.

memenuhi ekspektasi pasien
Dari: Pakhomova dkk., Musculoskeletal Care (2026)

 

Pertanyaan dan pemikiran

Model Common Sense tentang regulasi diri (CSM) dapat menjadi kerangka kerja yang berguna untuk menangani ekspektasi pasien. Model ini menjelaskan lima domain utama yang membentuk representasi seseorang terhadap suatu kondisi kesehatan: identitas (label diagnosis, misalnya tendinopati atau fraktur), timeline (perkiraan awal munculnya, durasi, dan perkembangan), konsekuensi (dampak pada fungsi fisik, kognitif, dan sosial), penyebab (keyakinan tentang asal-usul kondisi), dan kontrol (persepsi kemampuan pasien dan klinisi untuk memengaruhi kondisi tersebut).

Domain-domain ini tampak sangat relevan dengan temuan studi tersebut. Pasien menyatakan harapan yang kuat terkait pemahaman penyebab nyeri mereka, merasa didengarkan, dan mendapatkan pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Kekhawatiran seperti ini dapat diatasi secara efektif melalui edukasi pasien yang terstruktur berdasarkan domain-domain CSM, sehingga membantu menyelaraskan penjelasan klinis dengan keyakinan dan prioritas pasien.

Namun, penerapan CSM dalam praktik perlu kehati-hatian. Studi ini menekankan bahwa pasien mengharapkan untuk terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan. Karena itu, strategi pendidikan yang berbasis model ini sebaiknya menghindari pendekatan yang sepenuhnya top-down. Sebagai gantinya, strategi tersebut harus mendorong dialog kolaboratif yang berpusat pada pasien agar berbagi informasi mendukung otonomi—bukan memperkuat dinamika yang hierarkis.

 

Bicara kutu buku padaku

Penyebaran geografis peserta bisa menjadi keterbatasan. Kebanyakan responden pasien berasal dari daerah pedesaan di Prancis, sehingga memunculkan kemungkinan bahwa harapan dan persepsi pasien fisioterapi berbeda antara populasi pedesaan dan perkotaan. Perbedaan seperti ini dapat dipengaruhi oleh faktor seperti tingkat pendidikan, yang dapat membentuk keyakinan dan sikap terhadap tenaga profesional kesehatan.

Ukuran sampel yang besar dan cakupan geografis yang luas memberikan kekuatan statistik yang kuat. Namun, kriteria inklusi yang terlalu luas menurunkan spesifisitas temuan dan bisa membatasi penerapannya pada kelompok pasien yang lebih spesifik.

Keterbatasan lain berkaitan dengan penggunaan kuesioner. Perumusan pertanyaan dapat menimbulkan bias, sehingga berpotensi mengarahkan responden, atau menyelipkan asumsi implisit. Ada baiknya untuk meneliti apakah beberapa pertanyaan bisa disusun dengan cara yang berbeda guna meminimalkan risiko ini.

Lebih mendasar lagi, studi berbasis kuesioner secara inheren membatasi respons pada topik-topik yang sudah ditentukan, yang mungkin tidak sepenuhnya menangkap hal-hal yang paling penting bagi pasien. Pendekatan kualitatif awal mungkin membantu mengidentifikasi tema-tema kunci yang berakar pada pengalaman hidup pasien. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kategori ekspektasi dikembangkan: apa asal-usulnya, dan apakah kategori tersebut didasarkan pada riset kualitatif sebelumnya atau kerangka teoritis? Tanpa kejelasan ini, ruang lingkup investigasi bisa saja menjadi lebih sempit. Landasan yang lebih eksplisit pada metode kualitatif (misalnya pendekatan induktif atau grounded theory) akan memperkuat fondasi konseptual.

Pengecualian kuesioner yang belum lengkap juga layak dipertimbangkan. Meski selaras dengan panduan metodologis, pilihan ini bisa saja menimbulkan bias dengan secara sistematis mengecualikan profil peserta tertentu, sehingga berpotensi “membungkam” perspektif yang spesifik.

Akhirnya, diperlukan transparansi yang lebih besar terkait pengembangan kuesioner. Apa dasar pertimbangan di balik setiap pertanyaan? Apakah digunakan proses yang sistematis untuk pembuatan dan pemilihan item? Beberapa konsep, seperti “diperlakukan sebagai individu”, akan lebih baik jika didefinisikan dengan lebih jelas, karena konsep tersebut terbuka untuk interpretasi yang beragam dan dapat memengaruhi konsistensi respons.

 

Pesan untuk dibawa pulang

  • Ekspektasi pasien fisioterapi melampaui sekadar meredakan gejala. Pasien ingin terutama memahami kondisi mereka, mendapatkan penjelasan yang jelas, terlibat aktif dalam pengambilan keputusan perawatan, dan merasakan manfaat dari asesmen awal yang menyeluruh.
  • Fisioterapis biasanya tahu apa yang penting bagi pasien, tetapi sering salah menilai seberapa penting masing-masing hal itu. Perbedaan terbesar ada pada edukasi pasien, pengambilan keputusan bersama, dan seberapa besar nilai yang pasien berikan pada penjelasan.
  • Penjelasan adalah bagian dari perawatan: Membantu pasien memahami penyebab, perjalanan waktu, dan penanganan kondisi mereka bukan “komponen tambahan” dari layanan—itu justru inti untuk membangun kepercayaan, meningkatkan keterlibatan, dan mendukung kepatuhan.
  • Pasien ingin bekerja sama, bukan sekadar meyakinkan secara pasif. Studi ini menunjukkan bahwa pasien menghargai keterlibatan aktif dalam pengambilan keputusan lebih daripada yang mungkin diperkirakan oleh klinisi. Karena itu, komunikasi yang kolaboratif perlu diprioritaskan.
  • Sesi pertama itu penting: Pemeriksaan fisik yang menyeluruh dan penalaran klinis yang terbuka tampaknya sangat menentukan persepsi pasien tentang keahlian profesional dan rasa percaya terhadap perawatan.
  • Lingkungan perawatan memengaruhi pengalaman pasien. Kenyamanan klinik, kualitas peralatan, dan suasana secara keseluruhan ikut menentukan bagaimana pasien menilai kualitas layanan fisioterapi.
  • The Common Sense Model dapat memberikan kerangka kerja yang praktis untuk mengelola ekspektasi: Mengeksplorasi keyakinan pasien tentang kondisi mereka (identitas, durasi, dampak, penyebab, dan kontrol) dapat membantu menyesuaikan edukasi serta menyelaraskan rencana terapi dengan ekspektasi individu.
  • Memenuhi harapan pasien tidak berarti menyetujui setiap keyakinan: Artinya, memahami sudut pandang pasien, meluruskan miskonsepsi dengan penuh rasa hormat, dan menyusun bersama rencana rehabilitasi yang bermakna.

 

Referensi

Pakhomova S, Panchout E. Perbandingan Ekspektasi dan Persepsi Pasien di Kalangan Fisioterapis yang Bekerja dalam Rehabilitasi Muskuloskeletal: Studi Potong Lintang Berbasis Kuesioner. Asuhan Muskuloskeletal. 2026 Mar;24(1):e70211. doi: 10.1002/msc.70211. PMID: 41887199; PMCID: PMC13021288.

2 VIDEO KULIAH GRATIS

PERAN VMO & PAHA DEPAN DALAM PFP

Tonton VIDEO LECTURE 2 BAGIAN GRATIS ini oleh pakar nyeri lutut Claire Robertson yang membedah literatur tentang topik ini dan bagaimana hal itu berdampak pada praktik klinis.

 

Kuliah Vmo