Uji Kontrol Motorik Lumbal: Saat Perbedaan Statistik Tidak Jadi Kemenangan Klinis
Pendahuluan
Kontrol motorik lumbal (LMC) sering diajukan sebagai faktor penting pada nyeri punggung bawah non-spesifik kronis (NSCLBP), dan beberapa rangkaian tes telah dikembangkan untuk mengidentifikasi defisit kontrol motorik. Salah satu rangkaian tes tersebut adalah rangkaian tes yang diusulkan oleh Adelt dkk. (2021), yang berisi tes yang spesifik arah untuk fleksi, ekstensi, serta rotasi/fleksi lateral. Namun, riset sebelumnya menunjukkan bahwa tes-tes yang terkait fleksi dalam rangkaian tes ini terlalu mudah, sehingga sebagian besar orang dapat melewatinya, terlepas dari apakah mereka mengalami nyeri punggung bawah atau tidak. Akibatnya, muncul pertanyaan apakah tes-tes ini mampu membedakan individu dengan kontrol gerak yang lebih baik atau lebih buruk, atau apakah tes-tes tersebut valid untuk mengukur konstruk kontrol motorik lumbal. Empat tes baru berbasis fleksi diintegrasikan ke dalam rangkaian tes yang sudah ada, dan studi saat ini menilai apakah tes yang lebih baru ini lebih menantang dan karenanya berpotensi lebih berguna dari sudut pandang pengukuran. Pembedaan pentingnya adalah studi ini tidak menyelidiki apakah kontrol gerak lumbal menyebabkan nyeri punggung bawah, atau apakah perbaikan kontrol gerak dapat meningkatkan luaran. Sebagai gantinya, studi ini menilai apakah tes-tes itu sendiri, secara psikometrik, lebih baik dalam membedakan partisipan yang memiliki nyeri punggung bawah kronis dengan yang tidak.
Metode
Penelitian potong lintang ini melibatkan partisipan dengan nyeri punggung bawah kronis nons spesifik (NSCLBP) dan kontrol tanpa gejala. Pasien dengan NSCLBP melaporkan nyeri punggung bawah setidaknya selama tiga bulan. Kriteria eksklusi mencakup orang dengan patologi tulang belakang yang spesifik, pernah menjalani operasi tulang belakang, defisit neurologis, fraktur, tumor, atau gangguan inflamasi.
Demografi serta Oswestry Disability Index (ODI), Fear Avoidance Beliefs Questionnaire (FABQ), dan Fremantle Back Awareness Questionnaire (FreBAQ) diberikan.
Para peserta melakukan delapan tes kontrol gerakan yang terkait dengan fleksi:
- Bungkuk ke depan
- Ekstensi lutut unilateral
- Drop dada
- Menyandar ke belakang dengan ritmis
4 tes baru tersebut adalah:
- Busur Waiter
- Deep squat
- Angkat kotak
- Ekstensi lutut bilateral

Setiap tes dijelaskan kepada peserta menggunakan skrip standar. Seorang fisioterapis yang dibutakan terhadap alokasi kelompok menilai pelaksanaan tes secara visual secara real time. Tes dinilai secara dikotomis sebagai benar atau salah, berdasarkan pemeriksaan visual yang bersifat subjektif.
Hasil
Sebanyak 69 peserta dimasukkan dalam penelitian, dengan rincian 45 orang mengalami NSCLBP dan 24 orang sebagai kontrol sehat. Perbandingan data mereka pada awal (baseline) menunjukkan bahwa pasien dengan NSCLBP melaporkan tingkat beban fisik yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya. Sebaliknya, kontrol sehat melaporkan partisipasi dalam olahraga yang sedikit lebih tinggi berdasarkan skala penilaian numerik 0-10.

Pasien dengan NSCLBP mengalami gangguan yang relatif ringan, dengan intensitas nyeri median rendah yaitu 3/10, serta nilai rerata ODI sebesar 7,8 poin.

Di seluruh peserta, 22% gerakan dinilai dilakukan dengan tidak benar. Saat kelompok dibagi menjadi pasien NSCLBP dan kontrol sehat, hasil menunjukkan bahwa pada kelompok yang terkena, 25% item dilakukan dengan tidak benar, dibandingkan 17% pada kelompok kontrol.

Tingkat gerakan yang dilakukan dengan benar dipantau, dan hasilnya menunjukkan bahwa menunduk ke depan adalah item tes yang paling sering dilakukan dengan benar (sekaligus yang paling mudah). Gerakan tersulit yang dilakukan dengan benar adalah pengangkatan dari kotak (box lift), dengan 46% peserta melakukannya secara keliru: 37% pada kelompok kontrol dan 52% pada peserta dengan NSCLBP.
Setiap gerakan kontrol motorik lumbar dibandingkan antara kelompok yang mengalami NSCLBP dan yang tidak, namun tidak ada yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Namun, penulis melaporkan bahwa perbedaan performa total yang benar antara kelompok tersebut signifikan secara statistik: pasien dengan NSCLBP rata-rata melakukan 5 dari 7 gerakan dengan benar, dibandingkan 6 dari 7 pada kelompok kontrol. Item 5 dikeluarkan dari analisis ini karena, tampaknya, korelasi yang sangat tinggi dengan item 6 dapat menyebabkan distorsi model.
Pertanyaan dan pemikiran
Pertama-tama. Signifikansi statistik tidak selalu berarti bermakna secara klinis. Yang menarik, tidak ada satu pun tes kontrol motorik yang secara signifikan berbeda antara peserta dengan dan tanpa NSCLBP. Baru ketika tes-tes tersebut digabung menjadi skor total, barulah muncul perbedaan yang signifikan secara statistik. Ini mungkin mencerminkan akumulasi beberapa perbedaan kecil antar-kelompok, namun juga menunjukkan bahwa tidak ada satu tes kontrol motorik pun yang mampu membedakan kedua kelompok secara bermakna jika berdiri sendiri. Selain itu, perbedaan hanya satu tes lagi yang dilakukan dengan benar (5 vs. 6 dari 7) menimbulkan pertanyaan soal relevansi klinis dari temuan ini, meski secara statistik signifikan. Ditambah lagi dengan validitas konstruk kontrol motorik yang masih belum pasti, hasil ini mengarah pada perbedaan antarindividu—mungkin terkait variasi gerak dan adaptasi—bukan bukti adanya gangguan kontrol motorik yang terkait dengan NSCLBP.
Menariknya, masing-masing tes tidak secara signifikan membedakan peserta dengan dan tanpa NSCLBP. Hasil yang signifikan secara statistik baru muncul setelah semua item digabung menjadi satu skor total. Ini memunculkan pertanyaan apakah bidang tersebut sedang berupaya mengoptimalkan ketepatan pengukuran untuk suatu konstruk yang sejak awal hanya menunjukkan perbedaan kelompok yang cukup kecil. Jika tes-tes individual tidak bisa membedakan secara berarti antara orang dengan dan tanpa NSCLBP, maka masuk akal untuk bertanya apakah keterbatasan utamanya ada pada tesnya sendiri, atau pada konstruk yang mendasarinya—yang seharusnya diukur oleh tes tersebut.
Walaupun kita perlu jelas bahwa tujuan studi potong lintang ini adalah untuk menentukan tingkat kesulitan item pada tes motor control lumbal yang berkaitan dengan fleksi serta membandingkannya satu sama lain, kita juga perlu tetap kritis terhadap tujuan tes tersebut untuk praktik klinis. Motor control lumbal adalah topik yang muncul terutama dari karya Panjabi, Hodges, Richardson, O’Sullivan, Sahrmann, dan lainnya pada tahun 1990-an serta awal 2000-an. Teorinya menyatakan bahwa beberapa individu dengan nyeri punggung bawah memiliki kemampuan yang terganggu dalam mengendalikan gerakan dan pembebanan pada tulang belakang lumbal. Model stabilitas spinal Panjabi yang berpengaruh mengemukakan bahwa stabilitas tulang belakang bergantung pada interaksi antara struktur pasif (vertebra, diskus, ligamen), struktur aktif (otot dan tendon), serta sistem kontrol saraf. Menurut model ini, disfungsi pada salah satu subsistem akan menuntut kompensasi dari subsistem lainnya agar stabilitas tulang belakang tetap terjaga. Konsep ini kemudian melahirkan gagasan bahwa perubahan aktivasi otot atau pola gerak dapat berkontribusi pada nyeri atau cedera.
Teori ini menjadi cukup populer setelah beberapa studi melaporkan aktivasi yang tertunda pada otot transversus abdominis dan multifidus pada sebagian pasien dengan nyeri punggung bawah. Temuan tersebut ditafsirkan sebagai bukti bahwa otot stabilisasi dalam tulang belakang tidak bekerja secara optimal, sehingga mendorong pengembangan latihan motor control dan latihan “core stability” untuk mengembalikan pola aktivasi yang normal.
Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa kritik terhadap teori tersebut mulai bermunculan. Salah satu masalah utamanya adalah tidak adanya definisi yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan gerakan “normal”. Gerakan manusia sangat bervariasi, dan individu yang sehat sering kali menggunakan strategi gerakan yang berbeda untuk melakukan tugas yang sama. Akibatnya, masih belum jelas kapan variasi gerakan harus dianggap disfungsional. Bayangkan pemain tenis yang berbeda: meskipun mereka semua bermain permainan yang sama—dengan pukulan forehand dan backhand—mereka bisa menunjukkan strategi gerakan yang berbeda untuk menghasilkan pukulan bola yang sama. Dan bahkan di kalangan pemain terbaik pun, variasi gerakan masih banyak.
Jadi, meskipun banyak penelitian telah mengidentifikasi perbedaan gerak pada orang dengan nyeri punggung bawah, temuan ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat. Perubahan gerak bisa merupakan akibat dari nyeri, adaptasi yang bersifat protektif, atau sekadar pilihan strategi gerak tertentu—bukan penyebab dari gejala.
Masalah lainnya adalah temuan riset tentang gangguan kontrol motorik yang tidak konsisten. Studi melaporkan pola aktivasi otot yang terlambat, lebih cepat, lebih meningkat, dan lebih menurun pada orang dengan nyeri punggung bawah—menunjukkan bahwa tidak ada satu gangguan kontrol motorik tunggal yang menjadi ciri semua pasien. Hal ini membuat para peneliti berpendapat bahwa adaptasi kontrol motorik pada nyeri punggung bawah sangat beragam dan bersifat individual, bukan sekadar bentuk disfungsi. Selain itu, meskipun latihan kontrol motorik bisa efektif untuk nyeri punggung bawah kronis, biasanya latihan ini tidak jauh lebih unggul dibanding intervensi aktif lainnya seperti latihan kekuatan, program berjalan, atau olahraga umum.
Kritik paling penting, menurut saya, adalah kerangka kontrol gerak bisa (tanpa sengaja) memperkuat keyakinan yang tidak membantu tentang tulang belakang. Saat pasien diberi tahu bahwa mereka punya kontrol gerak yang buruk, tulang belakang yang tidak stabil, atau pola gerak yang keliru, mereka bisa mengembangkan rasa takut, hiperwaspada, dan menghindari gerak. Respons psikologis ini sendiri terkait dengan nyeri dan disabilitas yang menetap. Akibatnya, banyak peneliti modern sekarang memandang pola gerak yang berubah bukan semata-mata sebagai defisit patologis, melainkan sebagai adaptasi yang bergantung pada konteks—dan bisa mencerminkan respons individu terhadap nyeri, pengalaman sebelumnya, tuntutan fisik, atau keyakinan yang dimiliki. Jadi, bidang ini telah bergeser dari pertanyaan tentang cara memperbaiki “defisit kontrol motorik” menjadi mempertanyakan apakah pola gerak yang teridentifikasi itu benar-benar disfungsional, serta apakah itu benar-benar merupakan pendorong nyeri yang bermakna secara klinis sejak awal.
Kekhawatiran yang lebih luas adalah bahwa kerangka kerja kontrol motorik sering kali dimulai dengan asumsi bahwa ada cara yang benar dan salah untuk bergerak. Ketika variasi gerak diberi label sebagai kekurangan, klinisi bisa merasa terdorong untuk mengidentifikasi dan membetulkannya, padahal bukti yang mengaitkan pola gerak tersebut dengan nyeri, cedera, atau prognosis masih belum ada. Dengan cara seperti ini, variabilitas gerak manusia yang normal berisiko berubah menjadi sesuatu yang “dimedikal-kan”. Akibatnya, pasien mungkin meninggalkan sesi konsultasi dengan keyakinan bahwa tulang belakang mereka tidak stabil, rentan, atau bergantung pada kontrol sadar yang terus-menerus. Pada akhirnya, keyakinan seperti ini bisa jadi lebih melumpuhkan dibanding pola geraknya sendiri.
Saya sering melihat pasien di praktik yang sangat ingin memperbaiki postur mereka, tapi mencari bantuan karena mereka tidak bisa bertahan dengan apa yang disebut perfect-picture posture dalam jangka waktu lama. Dalam banyak kasus, upaya untuk terlihat “lebih tegak” ini justru meningkatkan ketegangan otot, kewaspadaan berlebihan, rasa takut untuk bergerak, dan yang paling sering: putus asa. Memberi mereka saran untuk bergerak dengan cara yang lebih alami, berganti posisi, berdiri, dan sering berjalan-jalan kadang terasa seperti “obat ajaib” yang mengejutkan bagi postur dan pola gerak “buruk” yang mereka nilai sendiri.
Para penulis menyelidiki tes kontrol gerakan terkait fleksi mana yang lebih sulit dilakukan. Tapi sebelum menyempurnakan tes-tes ini, kita sebaiknya dulu bertanya apakah tes tersebut memang mengukur gangguan yang bermakna secara klinis. Studi ini berasumsi bahwa kontrol motorik lumbal adalah sebuah konstruk yang bisa dikenali melalui observasi visual, dan bahwa gangguan yang ditemukan relevan untuk nyeri pinggang bawah kronis. Namun, asumsi ini masih diperdebatkan. Bahkan, penulis sendiri mengutip tinjauan sistematis terbaru yang menyimpulkan bahwa validitas tes kontrol sensorimotor lumbopelvik yang dinilai secara klinis didukung oleh bukti dengan kualitas rendah hingga sangat rendah. Kalau konstruk dasarnya masih tidak pasti, memperbaiki properti psikometrik tes mungkin hanya membuat kita semakin jago mengukur sesuatu yang relevansi klinisnya masih belum jelas.
Temuan ini juga mirip dengan Larsson dkk. (2024), yang menemukan tidak ada perbedaan pada performa tes kontrol gerak lumbopelvik antara powerlifter dengan dan tanpa nyeri punggung bawah. Ini menimbulkan kemungkinan bahwa yang sering ditafsirkan oleh klinisi sebagai defisit kontrol motorik kadang-kadang sebenarnya merupakan variabilitas gerak yang normal, adaptasi yang spesifik terhadap tugas, atau sekadar strategi gerak yang berbeda—bukan disfungsi.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana kerangka “movement control” diterjemahkan ke praktik klinis. Jika pasien diberi tahu bahwa mereka mengalami “kontrol gerakan yang buruk” atau bahwa mereka bergerak “secara tidak tepat,” hal ini mudah sekali memperkuat keyakinan bahwa tulang belakang itu rapuh, tidak stabil, atau perlu perlindungan terus-menerus. Narasi seperti ini bisa berkontribusi pada rasa takut, kewaspadaan berlebih (hypervigilance), dan menghindari gerakan—yang justru semuanya berkaitan dengan nyeri serta disabilitas yang menetap. Ironisnya, dampak dari keyakinan bahwa gerakan itu berbahaya mungkin justru lebih relevan secara klinis dibandingkan pola gerakan “yang salah” itu sendiri.
Yang penting, studi ini tidak menunjukkan bahwa gerakan-gerakan seperti fleksi lumbal atau mengangkat sesuatu itu bersifat berbahaya. Namun, artikel penelitian seperti ini bisa saja mudah disalahartikan sebagai “kesalahan gerak” atau gerakan tulang belakang yang tidak terkendali—sejenis bahasa nocebo yang mungkin lebih berbahaya bagi pasien daripada yang dimaksud, tetapi bisa juga saling terkait dengan pengalaman sehari-hari yang dialami.
Bicara kutu buku padaku
Para penulis menggunakan Teori Respons Butir (Item Response Theory/IRT), pendekatan psikometrik yang menilai seberapa informatif suatu tes pada berbagai tingkat kemampuan. Alih-alih hanya melihat persentase lulus/gagal, IRT memperkirakan tingkat kesulitan tiap butir tes serta seberapa baik butir tersebut membedakan orang dengan tingkat kemampuan yang berbeda pada konstruk yang mendasarinya—dalam hal ini, kontrol motorik lumbal yang berkaitan dengan fleksi.
Box lift adalah item yang paling sulit, sementara forward bend adalah yang paling mudah. Namun, semua uji menunjukkan nilai kesulitan yang negatif, yang berarti bahwa bahkan individu dengan kemampuan kontrol motorik di bawah rata-rata tetap memiliki peluang yang masuk akal untuk melakukannya dengan benar. Ini menunjukkan bahwa subskala fleksi terutama menargetkan tingkat kemampuan yang lebih rendah dan kegunaannya terbatas untuk mengidentifikasi defisit yang halus pada individu yang berfungsi lebih tinggi.
Walau analisis psikometriknya dilakukan dengan ketat, analisis ini tidak bisa mengatasi isu yang lebih mendasar: validitas konstruk. Sebuah tes bisa saja reliabel, secara statistik canggih, dan konsisten secara internal, tapi tetap mengukur sesuatu yang tidak punya relevansi klinis. Masalahnya mirip dengan yang sudah kita bahas dalam review kami terhadap Areeudomwong dkk. (2020) tentang instabilitas lumbal klinis. Di situ juga, perhitungan akurasi diagnostik dibangun di atas sebuah konstruk tanpa standar emas yang diakui secara universal.
Keterbatasan lainnya adalah semua penilaian gerak bergantung pada observasi visual. Meski penulis menstandarkan prosedur dan membuat penilai tidak mengetahui kondisi (blinded), analisis gerak berbasis penglihatan tetap bersifat subjektif. Tanpa ukuran biomekanik yang objektif, masih sulit untuk menentukan apakah pola gerak yang terlihat mencerminkan kontrol yang terganggu, adaptasi yang berhubungan dengan nyeri, variasi yang normal, atau sekadar strategi gerak yang memang lebih disukai.
Pesan untuk dibawa pulang
Penelitian ini menemukan bahwa orang dengan nyeri punggung bawah kronis non-spesifik menunjukkan performa yang sedikit lebih buruk pada tes kontrol motorik terkait fleksi dibandingkan dengan kontrol tanpa gejala. Tes yang baru diusulkan—terutama box lift dan waiter’s bow—lebih sulit daripada tes fleksi yang asli serta meningkatkan karakteristik psikometrik dari baterai tes tersebut. Namun, perbedaan antar kelompok tergolong kecil, karena hanya ada satu item tes, yang kemungkinan besar tidak relevan secara klinis.
Referensi
TINGKATKAN PENGETAHUAN ANDA TENTANG NYERI PUNGGUNG BAWAH SECARA GRATIS
5 pelajaran penting yang tidak akan Anda pelajari di universitas yang akan meningkatkan perawatan Anda terhadap pasien dengan nyeri punggung bawah dengan segera tanpa membayar sepeser pun